Jumat, 05 Desember 2014
SISTIM KRISTAL HEXAGONAL, TRIGONAL DAN ORTHOROMBIK
LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Mineralogi
Yang dibina oleh Dosen Bagus S.W dan Dosen PPL Pend. Geografi UM
Oleh
Ali Atul Rodiansyah
120722420605
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
PROGRAM STUDI S1 GEOGRAFI
September 2014
A. TUJUAN
1.
Mahasiswa
mampu memahami mengenai sistim kristal
2.
Mahasiswa
mampu memahami sistem kristal Hexagonal
3.
Mahasiswa
mampu memahami sistem kristal Trigonal
4.
Mahasiswa
mampu memahami sistem kristal Orthorombik
Kamis, 20 Februari 2014
Studi Desa Punten, Kota Batu Malang
1.
Profil
Desa Punten
Desa
punten merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Bumiaji, Kota Batu,
Malang, Desa ini merupaka desa yang di kembangkan menjadi salah satu desa
wisata yang ada di kota wisata batu, berikut ini adalah profil Desa Punten.
A. Luas : 281.935 hektare
·
39.680 hektare (persawahan)
·
59 hektare (pemukiman)
·
12.080 hektare (tegalan)
·
125 hektare (hutan Negara)
·
2.66 hektare (lain-lain, jalan umum dan
makam umum)
B. Karakter : Pegunungan, 800 Mdpl
C. Jumlah
penduduk :5.406 jiwa / 1.484 kepala
keluarga
D. Batas
wilayah
·
Utara : Desa Tulungrejo
·
Timur : Desa Sumbergondo dan Desa
Bulukerto
·
Selatan : Desa Sidomulyo Kecamatan Batu
·
Barat : Desa Gunungsari
E. Potensi
ekonomi
·
Pertanian jeruk keprok
·
Kampung Wisata
·
Aneka makanan ringan
F. Lembag
Desa:
·
PKK
·
LPMD
·
BPD
·
Linmas
·
Bum-des
·
Gapoktan
·
Karang
Taruna
·
Dll.
G. Pembagian wilayah Administrasi:
·
Dusun
Krajan
·
Gempol
·
Kungkuk
·
Dusun
Pay-an
·
8 RW dan 35
RT.
PENGHITUNGAN NILAI L, S, C DAN P TANAH PADA METODE USLE
Acara IV
PENGHITUNGAN NILAI L, S, C DAN P TANAH
PADA METODE USLE
I.
Maksud dan Tujuan
Adapun
maksud dan tujuan yang inggin di capai adalah:
1.
Mahasiswa dapat menghitung nilai L(panjang lereng) dan S(kemiringan lereng)
menggunakan persamaan Weschmeier.
2.
Mahasiswa dapat melakukan klasifikasi persebaran nilai faktor pengolahan
tanaman (C) yang di lakukan oleh pusat penelitian tanah (1973-1981).
3.
Mahasiswa mampu Mahasiswa dapat melakukan klasifikasi persebaran nilai faktor
pengolahan lahan (P) yang di lakukan oleh pusat penelitian tanah (1973-1981).
PENGUKURAN EROSIVITAS MENGGUNAKAN METODE HUDSON DAN LAL
Acara II
PENGUKURAN EROSIVITAS
MENGGUNAKAN METODE HUDSON DAN LAL
I.
Latar Belakang
Erosivitas
merupakan kemampuan hujan menimbulkan erosi. Tingkat erosi ini digambarkan
dalam bentuk indeks erosivitas hujan. Indeks erosivitas hujan merupakan besaran
tanpa satuan yang menggambarkan kemampuan hujan menimbulkan erosi. Jika semakin
besar nilai indeks erosivitas, maka semakin besar pula hujan menimbulkan erosi.
Pengukuran
indeks erosivitas dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode,
diantaranya adalah metode Bols yang sudah di bahas pada pertemuan yang
sebelumnya, metode LAL dan metode Hudson. Dalam praktikum ini dilakukan
pengukuran erosivitas hujan dengan menggunakan dua metode yaitu metode Hudson
dan LAL. Hasil yang didapat akan dibandingkan seberapa besarnya.
Laporan Erosivitas
Acara 1
EROSIVITAS
I.
Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan yang inggin di capai adalah:
1. Mahsiswa megetahui tentang erosivitas
2. Mahsiswa megetahui indeks erosivitas
3. Mahsiswa megetahui tentang indeks erosivitas menggunkan
rumus bols
II.
Dasar Teori
Faktor penyebab erosi
dinyatakan dalam erosivitas yang merupakan akibat dari hujan yang dipengaruhi
oleh adanya vegetasi dan kemiringan serta faktor tanah dinyatakan dalam
erodibilitas yang juga dipengaruhi oleh adanya vegetasi. Erosi juga ditentukan
oleh sifat hujan, sifat tanah, derajat dan panjang lereng, adanya penutup tanah
berupa vegetasi dan aktifitas manusia dalam hubungannya dengan pemakaian dan
pengelolaan tanah. Erosivitas merupakan sifat yang menentukan energi (R),
faktor yang mempengaruhi besarnya energi (kemiringan S, panjang lereng L) dan
erodibilitas merupakan sifat tanah K, serta faktor yang memodifikasi yaitu
tanaman (C) dan pengelolaan tanah (P). Topografi atau rupa muka tanah
menentukan kecepatan aliran permukaan yang membawa partikel -partikel tanah.
Peranan vegetasi penutup adalah melindungi tanah dari pukulan langsung air
hujan dan memperbaiki struktur tanah melalui penyebaran akar-akanrnya. Faktor
kegiatan manusia memegang peranan penting terutama dalam usaha pencegahan erosi
karena manusia dapat memperlakukan faktor-faktor penyebab erosi lainnya kecuali
faktor iklim.
Pengambilan Sampel Air Sungai
LAPORAN PRAKTIKUM
ACARA II
Pengambilan Sampel Air Sungai
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Praktikum
Kualitas Air
Yang dibina oleh
Dosen Drs. Didik Taryana, M.Si
Oleh :
Ali Atul
Rodiansyah [120722420605]
![]() |
FAKULTAS ILMU SOSIAL
ILMU GEOGRAFI
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
Februari 2014
1. TUJUAN
-
Mahasiswa dapat mengambil sampel air
sungai
-
Mahasiswa mengetahui cara kerja pengambilan
sampel air sungai
-
Mahasiswa mengatahui teknik-tekhnik
pengambilan sampel air sungai
2. ALAT
dan BAHAN
Adapun
alat dan bahan yang digunakan untuk pengambilan sampel air sungai:
1. Botol
air minum 600 ml, dan
2. Citra
satelit google earth sungai Metro (Malang).
Pengenalan Alat Analisis Kualitas Air
LAPORAN PRAKTIKUM
ACARA 1
Pengenalan Alat Analisis Kualitas
Air
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Praktikum
Kualitas Air
Yang dibina oleh
Dosen Drs. Didik Taryana, M.Si
Oleh :
Ali Atur Rodiansyah [120722420605]
![]() |
FAKULTAS ILMU
SOSIAL
ILMU GEOGRAFI
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
Januari 2014
1. TUJUAN
-
Memperkenalkan alat untuk analisis
kualitas air
-
Mahasiswa mengetahui cara kerja dan cara
penggunaan alat analisis kualitas air
2. ALAT
dan BAHAN
Adapun
alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan analisis kualitas air diantaranya
:
a. Burret
b. Statif
c. Elemeyer
d. Gelas
Ukur
e. Tabung
Reaksi
f. Bekker
g. PH
Meter atau EC meter
h. Water
Checker
i.
Timbangan Analitik
j.
Botol Sampel
k. Oven
l.
SPF (Spectofotometer)
Senin, 20 Mei 2013
Masalah Infiltrasi Pada Derah Perkotaan Dan Pemecahannya Dengan Menggunakan Sumur Resapan
Masalah Infiltrasi Pada Derah Pperkotaan Dan Pemecahannya Dengan Menggunakan Sumur Resapan
Potensi Daerah Lipatan Sumber Minyak Bumi Dalam Membantu Perkembangan Ekonomi
Potensi Daerah Lipatan Sumber Minyak Bumi Dalam Membantu Perkembangan Ekonomi Indonesi2
Teknik Modifikasi Cuaca Untuk Menekan Curah Hujan Pada Daerah Rawan Banjir
Teknik Modifikasi Cuaca Untuk Menekan Curah Hujan Pada Daerah Rawan Banjir
Dampak Pemanasan Global Terhadap Kondisi Hidrosfer Di Permukaan Bumi
Dampak Pemanasan Global Terhadap Kondisi Hidrosfer Di Permukaan Bumi
Pendeteksian Bahaya Tsunami Bagi Wilayah Padat Penduduk Di Pulau Jawa
Pendeteksian Bahaya Tsunami Bagi Wilayah Padat Penduduk Di Pulau Jawa
Kamis, 09 Mei 2013
Desa Sukopuro
Desa sukopuro
Kecamatan Jabung
Kabupaten Malang
Gambar: Peta Desa Sukopuro
Profil Desa Sukopuro:Kabupaten : Malang
Kecamatan : Jabung
Kode pos : 65155
Luas : 630,935 Ha
Koordinat : -
Pembagian wilayah administratif
Dusun Kepuh - Bayung Kidul
- Bayung Tengah
- Bayung Lor
Dusun Karang Rejo - Kampung Kluweh
- Kodok Kulon
- Kodok Tengah
- Kodok Wetan
- Kodok Baran
Dusun Loring - Loring Kulon
- Loring wetan
- Sumber Pitu
- Duren
Dusun Pandan Rejo - Cincing
Fasilitas Umum
Puskesmas Desa (1)
Perpustakaan Anak Bangsa Sukopuro (1)
Gedung Serbaguna (1)
Lapangan Sepak bola (1)
Lapangan voli (2)
Tempat ibadah masjid (5)
Paud (3)
TK (3)
SD (4)
SMP (1)
TPQ (3)
Morfologi
Morfologi Desa Sukopuro termasuk dataran yang bergelombang
Tanah
Jenis tanah di desa Sukopuro termasuk Alluvial, yaitu karena endapan dari sungai Jilu yang berhulu di atasnya, selain itu juga banyak di lewati oleh sungai-sungai irigasi yang kecil. banyak wilayah yang di gunakan untuk pertanian, pertenian basah maupun kering. perkebunan juga banyak penggunaan lahan untuk perkebuna maupun ladang.
Kamis, 21 Maret 2013
Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman
dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah
untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga
salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu
klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai
jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua
halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses
kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Istilah teknik lain untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand
, ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk
setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas
dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar. Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.
Densitas
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut, serta
dipengaruhi juga oleh salinitas, temperatur, dan tekanan. Densitas air
laut merupakan jumlah massa air laut per satu satuan volume. Pada
umumnya nilai densitas (berkisar antara 1,02 – 1,07 gr/cm3) akan
bertambah sesuai dengan bertambahnya salinitas dan tekanan serta
berkurangnya temperatur. Lambang yang digunakan untuk menyatakan densitas adalah ρ (rho).
Densitas air laut bergantung pada Temperatur (T), Salinitas (S) dan Tekanan (p). Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air
laut (Equation of State of Sea Water):
ρ = ρ(T,S,p)
Penentuan dasar pertama dalam membuat persamaan di atas dilakukan oleh
Knudsen dan Ekman pada tahun 1902. Pada persamaan mereka, ρ dinyatakan
dalam g cm-3. Penentuan dasar yang baru didasarkan pada data tekanan dan
salinitas dengan kisaran yang lebih besar, menghasilkan persamaan
densitas baru yang dikenal sebagai Persamaan Keadaan Internasional (The
International Equation of State, 1980). Persamaan ini menggunakan
temperatur dalam oC, salinitas dari Skala Salinitas Praktis dan tekanan
dalam dbar (1 dbar = 10.000 pascal = 10.000 N m-2). Densitas dalam
persamaan ini dinyatakan dalam kg m-3. Jadi, densitas dengan harga 1,025
g cm-3 dalam rumusan yang lama sama dengan densitas dengan harga 1025
kg m-3 dalam Persamaan Keadaan Internasional.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya
temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas
air laut terletak pada kisaran 1025 kg m-3 sedangkan pada air tawar
1000 kg m-3. Para oseanografer biasanya menggunakan lambang σt (huruf
Yunani sigma dengan subskrip t, dan dibaca sigma-t) untuk menyatakan
densitas air laut. dimana σt = ρ - 1000 dan biasanya tidak menggunakan
satuan (seharusnya menggunakan satuan yang sama dengan ρ). Densitas
rata-rata air laut adalah σt = 25. Aturan praktis yang dapat kita
gunakan untuk menentukan perubahan densitas adalah: σt berubah dengan
nilai yang sama jika T berubah 1oC, S 0,1, dan p yang sebanding dengan
perubahan kedalaman 50 m.
Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi di atas titik beku
untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di
atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya konveksi panas.
S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum,
kemudian jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas
maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada lapisan
campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi
pembekuan. Di bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh
air dengan densitas maksimum.
S > 24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air.
Pendinginan diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas (heat)
yang tersimpan di dalam badan air. Hal ini terjadi karena air mencapai
titik bekunya sebelum densitas maksimum tercapai.
Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter
densitas potensial yang didefinisikan sebagai densitas parsel air laut
yang dibawa secara adiabatis ke level tekanan.
Perubahan densitas dapat disebabkan oleh
proses-proses :
- Evaporasi di permukaan laut
- Massa air pada kedalaman < 100 m sangat dipengaruhi oleh angin dan gelombang, sehingga besarnya densitas relatif homogen
- Di bawah lapisan ini terjadi perubahan temperatur yang cukup besar (Thermocline) dan juga salinitas (Halocline), sehingga menghasilkan pola perubahan densitas yang cukup besar (Pynocline)
- Di bawah Pynocline hingga ke dasar laut mempunyai densitas yang le
bih padat
Stabilitas air laut dipengaruhi oleh perbedaan densitasnya, yang
disebut dengan Sirkulasi Densitas atau Thermohaline. Dalam kegiatan
pemeruman (pengukuran kedalaman dengan alat Echosounder), salinitas dan
temperatur yang diperoleh dari pengukuran pada interval kedalaman
tertentu sangat berguna untuk menentukan :
- Cepat rambat gelombang akustik
- Menentukan pembelokan arah perambatan gelombang akustik (refraksi)
Langganan:
Postingan (Atom)

